Terbuka, Peluang Ekspor Batik ke Jepang

Sunday, May 9, 2010



Peluang pemasaran industri batik di luar negeri kini masih terbuka lebar, dengan syarat pengusaha bisa menjaga kualitas dan seni batik tulis yang mengikuti kemauan konsumen, kata perajin batik Cirebon.

"Pangsa pasar batik di luar negeri, seperti Jepang masih terbuka, asal kita bisa menjaga komitmen dengan konsumen," kata perajin batik Masnedi Masina kepada wartawan di Cirebon, Sabtu (29/8).

Masnedi, yang juta Sekretaris Koperasi Batik Trusmi Cirebon itu, menjelaskan ia sudah lama menjalin hubungan dengan konsumen di Jepang dalam memasarkan batik tulis khas Cirebon.

Menurut dia, konsumen Jepang tersebut sangat menghargai karya seni batik dan setiap tahun terus memesan sekitar 30 batik dengan harga di atas Rp 2 juta. "Orang jepang tersebut menanyakan kepada saya, berapa batik yang bisa dihasilkan setiap tahun? Saya jawab, tidak bisa ditarget karena membatik memiliki unsur seni," katanya.

Mendengar jawaban tersebut, konsumen Jepang itu menyampaikan kepuasannya, tambah Masnedi. Ia mengatakan peluang pasar batik di negeri Sakura tersebut masih terbuka luas.

Dalam perkembangannya, konsumen Jepang membawa foto yang harus diterakan dalam pembuatan batik. "Kalau sudah begitu kami tinggal memenuhi permintaan saja," katanya.

Ia mengatakan hingga kini ada enam pelanggan di Jepang yang setiap tahun memesan batik tulis Cirebon. "Kuncinya ialah melayani pelanggan luar negeri tersebut harus tepat waktu. Misal, mereka pesan 15 potong dalam enam bulan, jika hanya selesai 10 potong ia akan marah, jadi harus benar-benar selesai 15 potong," katanya.

Mengenai harga, konsumen Jepang sangat paham karena yang dibeli adalah karya seni batik, tambahnya pula. Karena itu, sekitar 95 persen batik tulis karya Masnedi dikirim ke Jepang. "Alhamdulillah, saya membatik sudah generasi ke tujuh dan kini delapan anak dan mantu sudah mewarisi cara-cara membatik yang berkualitas dan terus dikirim ke Jepang," katanya.

Cirebon, kompas.com

Batik Untuk Kartini

Wednesday, April 21, 2010

Indonesia seketika menjadi meriah ketika UNESCO secara resmi mengumumkan bahwa Batik Indonesia merupakan “Warisan Budaya Dunia”, tepatnya 2 Oktober 2009 yang lalu. Jalan-jalan di ibukota dan kota-kota besar lainnya diramaikan dengan kampanye penggunaan batik, diiringi dengan melonjaknya permintaan batik untuk pasar domestik. Saat keriuhan itu berlangsung, perajin-perajin batik di daerah khususnya Pekalongan sebagai salah satu sentra batik terbesar di Indonesia sudah kewalahan menerima banjir order khususnya dari Jakarta. Sebagian besar pengusaha adan perajin batik telah mengetahui berita ini sebelumnya, UNESCO telah melakukan riset ke daerah-daerah sentra industri batik sejak beberapa 2 tahun terakhir.

Hajah Halimah salah seorang pengusaha batik wanita di Pekalongan yang ditemui dirumahnya mengatakan, setidaknya ia bisa menjual 100 kodi (2000 potong) pakaian batik per hari sejak awal tahun ini. Rata-rata batik yang ia jual seharga lima ratus ribu rupiah per kodi, jadi omsetnya dalam satu hari berkisar lima puluh juta rupiah! Untuk skala industri rumah tangga angka tersebut sangat besar, dirumahnya di gang sempit ia menyimpan mobil mewah di halaman rumahnya. Gairah usaha yang begitu menggeliat setelah 2 oktober lalu bahkan sebagian pengusaha yang lain mengatakan bahwa penjualan jauh lebih tinggi dibandingkan ketika masa lebaran, yang menjadi indikasi kenaikan permintaan produknya.

Penjualan batik yang meningkat tajam tidak hanya terjadi di Pekalongan, beberapa daerah penghasil batik yang lain juga merasakan hal yang sama. Daerah penghasil batik yang bangkit kembali dalam penjualan batik antara lain, Pamekasan, Banyumas, Indramayu, Rembang, Cilacap dan mais banyak daerah lainnya. Dari pelaku usaha batik di daerah-daerah tersebut didominasi oleh kaum hawa, baik perajin bahkan pengusaha suksesnya banyak dari kalangan wanita. Batik Cilacap telah mengenal sosok Euis Rohaini sebagai pengusaha yang mampu mengerahkan perempuan-perempuan di desanya untuk merambah pasar ekspor, ia mengirim hingga 500 lembar setiap kali pesanana ke Inggris dan Korea dengan produk senilai jutaan rupiah. Di Rembang Jawa Tengah juga terdapat 12 orang ibu yang mendirikan kelompok usaha bersama, mereka sebelumnya pembatik yang telah memiliki keterampilan membatik turun menurun.

Maraknya Batik Indonesia hingga pasar ekspor oleh industri rumah tangga setidaknya telah membangkitkan gairah usaha di kalangan rakyat kecil daerah, termasuk diantaranya yang telanh mendulang kesuksesan pengusaha wanitanya. Paoman Kabupaten Indramayu yang juga dikenal sebagai daerah penghasil batik, kini juga menjadi salah satu penopang kebutuhan batik domestik maupun ekspor. Perempuan-perempuan di Paoman pada umumnya membatik untuk mengisi hari-harinya menanti suami yang berjuang sebagai nelayan, tradisi itu kini justru menghasilkan dan tak sedikit mampu menjadikannya nafkah utama keluarganya. Kini perempuan yang sebelumnya sebagai ibu rumah tangga, telah bergerak menjadi penopang perekonomian setidaknya di lingkungan keluarga.

Industri batik yang didominasi wanita telah menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia, dan mewarnai kebudayaan dunia dengan adanya pengakuan dari UNESCO. Nilai seni dan budaya yang diakui dunia juga bisa menjadi salah satu sektor penunjang perekonomian nasional, di saat industri tekstil yang terancam dengan keberlangsungan ACFTA. Keunggulan dalam citarasa seni dalam berbusana ini memang lekat dengan kepribadian wanita, yaitu identik dengan keindahan. Namun ternyata selain keindahan, perempuan-perempuan pegiat batik Indonesia juga menunjukkan kekuatannya dalam membangun bisnis yang prospektif dan berbudaya. Naomi Susilowati Setiono contohnya, pengusaha batik asal Lasem ini menggeluti usaha batik setelah sebelumnya berprofesi sebagai kernet bus.

Kekuatan wanita dalam membangun kerajaan bisnis telah diakui oleh dunia jauh sebelum Batik diakui dunia, Siti Khadijah istri nabi Muhammad SAW merupakan saudagar tersohor di jazirah arab. Di Arab Saudi menurut data yang bersumber dari pemerintahan Saudi, pengusaha wanita disana mengelola sekitar 20.000 perusahaan kelas menengah dan perusahaan kecil dengan nilai asset sekitar 60 milyar riyal Saudi. Peran wanita tidak lagi bisa dilihat dari satu sisi, ada peran yang begitu besar dalam menopang bangunan sebuah bangsa dalam hal ini perekonomian. Fenomena bisnis rumahan yang banyak digeluti ibu-ibu rumah tangga kini tak lagi sekedar aktivitas mengisi waktu, struktur ekonomi kita banyak ditopang oleh sektor UKM dan pengusaha wanita berkontribusi besar di dalamnya.

Batik seperti halnya produk seni dan budaya, memiliki unsur-unsur estetis dan filosofis. Pengusaha-pengusaha batik wanita Indonesia mempunyai kekuatan untuk membangun negeri ini, dan kita begitu membutuhkan pesona karyanya. Ketika keindahan berbaur dengan ketekunan dan kelembutan menyatu dengan keteguhan, maka kita melihat karya anak bangsa yang telah diakui dunia. Masih banyak potensi tersimpan pada diri wanita Indonesia, begitu juga dengan seni dan budaya bangsa kita. Andai saja pemerintah melihat potensi ini dan mendukungnya, kita tentu bisa bernafas lega melihat perempuan Indonesia berkarya di negeri sendiri. Permasalahan ketenagaakerjaan terutama pekerja migran wanita yang sering kali tak dimanusiakan di tanah asing, bisa diatasi dengan terbukanya peluang kerja domestik dan pasar batik yang mendunia.

Begras Satria

Pengusaha Batik Nusantara

Di Jawa Tengah

Belajar Menghadapi Kritik

Thursday, April 15, 2010

Anda dikritik? Hadapi itu. Tak peduli bagaimana baiknya Anda melaksanakan tugas-tugas dalam karier Anda, seseorang akan selalu mengkritik Anda. Semakin sukses Anda, maka akan lebih banyak lagi Anda menjadi suatu target kritik.

Tak seorangpun menyukai kualitas pekerjaan mereka diremehkan, atau ada suara yang mempertanyakan keputusan mereka atau integritas mereka ditantang.

Tapi ini adalah soal bagaimana Anda berhadapan dengan kritik yang menentukan kekuatan Anda dan seberapa besar jiwa Anda. Kita dapat belajar banyak dari bagaimana kesuksesan orang menangani kritik.

Memahami kritik

Kritik pada umumnya menghadirkan kesempatan untuk membuat kemajuan. Pasti, ada beberapa orang yang mengambil kesenangan dengan cara sadistis dalam kritik, tetapi kebanyakan kritik sebenarnya dimaksudkan untuk bersifat membangun. Melawan, membantah atau tidak merespeknya sebaiknya tidak dilakukan saat menerima kritik yang mungkin saja merupakan koreksi kecil untuk hal-hal besar.Kesediaan untuk menerima kritik membangun dan tindakan di atasnya mencerminkan suatu profesionalisme dan kedewasaan.

Tentukan sumber kritik.

Apakah kritik itu berasal dari seorang rekan kerja, bawahan, klien, atau atasan? Bisa juga adalah kecemburuan? Banyak para manajer senior merasa terancam oleh para profesional muda yang sedang meniti karir.

Seorang bawahan mungkin mengkritik Anda untuk memandu Anda menyoroti kemampuan dan pekerjaannya yang luar biasa. Semuanya dia lakukan agar menonjol dan bisa jadi ia merasa gelisah.

Kritik dari klien, pada disisi jarang berdasarkan pada kecemburuan dan mungkin sepertinya untuk produk tersamar atau keluhan atas layanan.

Berikan perhatian tertentu atas kritik dari karyawan Anda. Salah satu laporan langsung Anda mungkin menentukan apakah itu suatu pelecehan seksual atau bisa menjadi penuntutan perkara.

Memahami darimana kritik berasal adalah kunci untuk mengetahui bagaimana cara menangkal yang terbaik.

Kurang dari seminggu dalam pemilu California 2003, para pendukung lawan memukul aktor dan calon gubernur Arnold Schwarzenegger dengan kritik yang berpotensi menjegal karir. Aktor Terminator itu lalu mengatakan tuduhan pelecehan seksual itu tak terbukti dan meminta maaf. Menyarungkan pedang dan meminta maaf mampu meredam isu tersebut. Mengingkarinya malah akan menghembus nyala api lebih besar lagi seperti yang bisa kita pelajari dari skandal Bill Clinton.

Beberkan keluar jika itu kesalahan Anda

Letakkan ego Anda ke samping. Jika kritik berjasa, dengarkan umpan balik secara obyektif dan pasti Anda memahami itu. Prtimbangkanlah pilihan Anda untuk mengoreksi situasi atau memecahkan masalah itu. Ada banyak CEO sukses dan para pelaku bisnis di luar sana yang membuat kekeliruan dan menerima kritik, tetapi mereka membuktikan bahwa mereka bisa meletakkan ego mereka ke samping, menilai situasi, mengambil kepemilikan, dan kembali bahkan lebih kuat.

Tokoh real estate Donald Trump sering dikritik untuk kelebihannya yang cermelang. Walaupun investasinya secara drastis mengurangi kekayaan bersihnya, ia tidak mengijinkan kritik untuk menghancurkannya mengagumi diri sendiri.

Multi-milyuner Edgar Bronfman Jr., CEO Seagram Company Ltd., juga melewatkan kritik. Walaupun orang mengkritik dan mengejek keputusannya membeli Polygram/Mca dan Universal Pictures, divisi entertainment terbukti mendorong citra perusahaan nya, tetapi bukan garis dasarnya.

David Stern adalah satu contoh bagaimana tidak menangani kritik: Ia sedang disalahkan untuk penampilan lemah dari NBA tapi menolak untuk menerima umpan balik negatif.

Jangan mencari kambing hitam

Tidak usah bersikeras, menyalahkan orang lain atau mengingkari isu dengan harapan isu akan mengabur. Suatu penjelasan sering nampak seperti suatu pengingkaran atau alasan.

Bersikaplah profesional.

Mantan CEO General Electric Jack Welch hanya sementara pudar saat proses pensiunnya pada Juli 2003 dimana saat itu dinilai bonusnya sangat jauh diluar kebiasaan. Bukannya mencoba untuk membelokkan atau bersikeras atas kritik itu, Welch memutuskan mengundurkan diri meninggalkan semua keuntungan pensiunnya dan menyelamatkan reputasi profesionalnya.

Jangan lawan system

Orang cenderung untuk menembak pesuruh itu. Anda mungkin telah dikritik untuk sesuatu yang tidak berada dalam kendali Anda. Barangkali kebijakan perusahaan adalah target yang riil, atau melibatkan keseluruhan departemen dalam proyek. Jangan mengambilnya secara pribadi, hindari bersikeras dan hadapi apapun juga berada dalam kendali Anda.

Agen check-in pesawat tidak bertanggung jawab atas reaksi gugup karena keterlambatan terkait kondisi cuaca atau kegagalan mekanik, tetapi bagaimana mereka menangani kerumunan para penumpang yang marah memperoleh kembali kontrol dan menciptakan suatu kesan positif.

Saat publik berbalik melawan Microsoft karena memonopoli perangkat lunak pasar, Bill Gates mengambil tanggung jawab. Bukannya bersembunyikan di belakang perusahaan, ia minta maaf dan mengambil tindakan untuk memajukan citra Microsoft-- dan ketenaran dirinya malah meningkat.

Jika Anda berperan sebagai pemimpin, ambillah bola panas di tim Anda. Bertemu dengan staff Anda untuk mendiskusikan permasalahan secara obyektif dan menciptakan solusi bersama-sama. Kritik membangun bisa merupakan suatu hadiah. Semua tergantung sikap Anda ketika menerima kritik itu.

Terima keterbatasan

Apa yang ada diatas kepala Anda? Jika Anda sedang dikritik tetapi tidak bisa diubah, pindahlah ke strategi B. Barangkali orang lain perlu membuat presentasi jika Anda tak mampu berbicara didepan umum. Kenalilah bagaimana dan kapan untuk mendelegasikan.

Pendiri Yahoo! kebanyakan orang teknik, semua tanpa ketrampilan bisnis dan pengalaman untuk lihat gambaran yang lebih besar dan membuat perusahaan sukses. Mereka mengenali ini dan tidak membiarkan ego berdiri di jalan, mereka tahu kapan untuk menepi dan mendelegasikan tugas ke orang lain.

Komentar kritis dari suatu pribadi seringkali lebih sulit untuk diterima, tetapi orang sukses mengembangkan kemampuan untuk menolak atau membelokkan kritik yang bukan tentang kemampuan profesional mereka. Saat pewawancara menyebutkan merek dagang model rambut nya, Donald hanya tertawa.

Apa yang boleh dan tidak boleh Anda lakukan soal Kritik

Ø Dengarkan secara obyektif

Ø Tanyakan secara spesifik

Ø Cari pendapat kedua dan lakukan penelitian Anda

Ø Mintalah maaf, ambil alih kepemimpinan dan tanggungjawaby

Ø Perlihtakan Anda mengambil masukan sebagai bahan pertimbangan

Ø Lakukan tindakan koreksi

Ø Belajarlah soal itu

Ø Jangan abaikan kritik

Ø Jangan bersikeras, marah atau emosi

Ø Jangan habiskan waktu untuk mencari pembenaran

Ø Jangan bereaksi penuh emosi sebelum mempertimbangkan rencana aksi terbaik

Ø Jangan menyalahkan yang lainnya

Ø Jangan menolak bertanggung jawab

Ø Jangan memikirkan kesalahan

Bersikaplah jantan

Kritik dapat diakibatkan oleh kurang perasaan, pelanggaran nyata atau harapan yang tak mampu. Kritik dapat juga berasal dari kepicikan, kecemburuan dan "karena sindrom sedang tidak dalam kondisi baik' Kritik membangun hanya dapat berdampak pada Anda secara negatif jika Anda terus mencaci maki diri sendiri. Maka fokuslah pada kesuksesan Anda.

Kembangkan kulit badak dan siapkan untuk menerima kritik baik itu adil atau tidak. Bersikaplah obyektif, ambil tindakan dan biarkan hal itu berlalu. Selalu beri orang sedikit alasan untuk mengritik pada kesempatan pertama nantinya dan dimasa mendatang.

askmen/irene

Kapanlagi.com

Perspektif #1

Tuesday, January 26, 2010


Kamera : Nikon FM10
Diafragma : 8
Rana : 1/250

Lokasi :
Candi Sewu

Deskripsi :
Perspektif menghasilkan cara kita menelaah fenomena alam, dalam hal ini setiap kali ada yang "besar" pasti ditopang oleh para "kecil".

Potret Perantauan

Kamera : Yashica FX-3
Diafragma : 16
Rana : 1/100

Lokasi :
Stasiun Gambir Jakarta

Deskripsi :
Ibukota adalah daya tarik tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama bagi pencari kerja. Dalam setiap satu kesempatan terselip satu ancaman, namun begitulah potret perantau yang menantang hidup untuk menaklukkan kehidupan.

Kenthongan Banyumas

Kamera : Nikon FM10
Diafragma : 8
Rana : 1/100

Lokasi :
Arena Festival Kenthongan Banyumas 2004

Deskripsi :
Sebuah ragam budaya bangsa yang menampilkan kekayaan khasanah seni dan falsafah kehidupan. Alunan irama kenthongan bertalun beriringan dengan harmoni gerakan nan mempesona, menandakan bahwa bangsa indonesia mengapresiasi keselarasan.

Globalisasi dan Kemiskinan

Globalisasi dan Kemiskinan

Kemiskinan bukan ekses globalisasi. Begitu Hernando de Soto, seorang pemikir ekonomi dunia asal Peru, menegaskan. Kemiskinan di dunia, katanya, bukanlah akibat ekses globalisasi dan kapitalisme.
Kemiskinan dan globalisasi memang sudah lama menjadi bahan perdebatan, bukan hanya di kalangan ekonom-ekonom dalam negeri, tapi juga dunia. Perdebatannya pun tak pernah jauh-jauh dari bagaimana dampak globalisasi terhadap kemiskinan; menekan kemiskinan atau justru memperbesar kemiskinan.
Sejak proses globalisasi mulai berlangsung, kondisi kehidupan di hampir semua negara terkesan meningkat, apalagi jika diukur dengan indikator-indikator lebih luas. Namun, seringkali pula peningkatan itu hanya ada dalam hitung-hitungan di atas kertas. Negara-negara maju dan kuat memang bisa meraih keuntungan, tapi tidak negara-negara berkembang dan miskin.
Pengalaman sudah membuktikan sejak proses globalisasi bergulir muncul pula isu-isu seperti perdagangan global yang tidak fair, juga sistem keuangan global yang labih yang menelorkan krisis. Dalam kondisi tersebut, negara-negara berkembang dan miskin berulang kali terjebak jeratan utang yang justru jadi beban. Belum lagi bermunculan rezim hak properti intelektual, yang malah menghabisi akses masyarakat miskin untuk mendapat obat-obatan dengan harga terjangkau.
Dalam proses globalisasi, seharusnya uang mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara negara-negara kaya memiliki kemampuan untuk menahan risiko fluktuasi kurs dan suku bunga, negara-negara berkembang dan miskin menanggung beban fluktuasi tadi.
Fakta-fakta tersebut jelas tidak menjadikan De Soto, juga kita, antiglobalisasi. Soto hanya menunjuk kemiskinan di negara berkembang dan miskin bukan karena globalisasi tapi karena pemerintah tak memberi kesempatan pada rakyatnya untuk masuk ekonomi pasar. Karenanya, pemerintah dianggap perlu memformalkan sektor informasl. Caranya dengan legalisasi usaha-usaha informal dan memberikan sertifikat atas lahan dan aset-aset sektor informal tadi. Soto mengusulkan agar penduduk, usaha informal, dan petani miskin diberi sertifikat sehingga bisa dengan mudah mendapat pinjaman modal perbankan, yang tak lain korporasi besar. Pemberian sertifikat itulah yang kemudian disebutnya sebagai kodifikasi hukum.
Gagasan boleh saja. Reformasi hukum, harus. Tapi, ingat juga siapa yang bakal dihadapi sektor informal –dengan bekal sertifikat dan pinjaman perbankan yang tak seberapa– setelah mendapat akses ekonomi pasar? Korporasi-korporasi besar mancanegara, bermodal besar, berjaringan kuat, dan telanjur mendapat akses jauh lebih besar lantaran pemerintah menandatangani pembukaan akses pasar alias globalisasi.
Petani miskin kita, dengan modal sertifikat dan pinjaman perbankan tak seberapa, setelah mendapat akses ekonomi pasar, ‘dipaksa’ menghadapi petani-petani negara maju bertameng subsidi dan proteksi pemerintah. Bukankah ketidakseimbang itu yang jadi sebab mandeknya perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)?
Kita memang tidak seharusnya antiglobalisasi. Kita juga perlu terus melakukan reformasi di bidang hukum, termasuk yang terkait perdagangan bebas dan pembukaan akses pasar. Tapi, kita perlu juga mewaspadai akibat globalisasi terhadap proses pemiskinan. Globalisasi mungkin tidak akan memiliki ekses pada kemiskinan, jika pemerintah tahu benar cara melindungi sektor informal domestik dalam keterbukaan akses pasar. Tanpa perlindungan itu, gagasan Soto boleh jadi hanya berarti bagi satu dua korporasi besar.

Republika, Selasa, 07 Nopember 2006

Keluarga Pahlawan

Sunday, August 30, 2009

Keluarga Pahlawan

Perenungan yang mendalam terhadap sejarah akan mempertemukan kita dengan satu kenyataan besar; bahwa sejarah sesungguhnya merupakan industri para pahlawan. Pada skala peradaban, kita menemukan, bahwa setiap bangsa mempunyai giliran merebut piala kepahlawanan. Di dalam komunitas besar sebuah bangsa, kita juga menemukan bahwa suku-suku tertentu saling bergiliran merebut piala kepahlawanan. Dan dalam komunitas suku-suku itu, kita menemukan, bahwa keluarga-keluarga atau klan-klan tertentu saling bergiliran merebut piala kepahlawanan itu.
Bangsa Arab, misalnya, pemah merebut piala peradaban. Tapi dari sekian banyak suku-suku bangsa Arab, suku Quraisy adalah salah satu yang pemah merebut piala itu. Dan dari perut suku Quraisy, keluarga Bani Hasyim, darimana Rasulullah SAW berasal, adalah salah satu klan yang pemah merebut piala itu.
Pada saat sebuah Marga atau klan melahirkan pahlawan-pahlawan bagi suku atau bangsanya, biasanya dalam keluarga itu berkembang nilai-nilai kepahlawan yang luhur, yang diserap secara natural oleh setiap anggota keluarga begitu ia mulai menghisap udara kehidupan. Kepahlawanan dalam klan para pahlawan biasanya terwariskan melalui faktor genetik, dan juga pewarisan atau sosialisasi nilai-nilai kepahlawanan itu. Apabila seorang pahlawan besar muncul dari sebuah keluarga, biasanya pahlawan itu secara genetis mengumpulkan semua kebaikan yang berserakan pada individu-individu yang ada dalam keluarganya.
Khalid Bin Walid, misalnya, muncul dari sebuah klan besar yang bemama Bani Makhzum. Beberapa saudaranya bahkan lebih dulu masuk Islam dan cukup berjasa bagi Islam. Tapi kebaikan-kebaikan yang berserakan pada saudara-saudaranya justru berkumpul dalam dirinya. Maka jadilah iayang terbesar. Umar Bin Khattab juga berasal dari klan yang sama dengan Khalid Bin Walid. Umar juga mengumpulkan kebaikan-kebaikan yang berserakan di tengah individu-individu keluarganya. Maka jadilah ia yang terbesar.
Tetapi diantara Khalid dan Umar terdapat kesamaan-kesamaan yang menonjol. Keduanya memiliki kesamaan pada bangunan fisik yang tinggi dan besar, serta wajah yang sangat mirip. Lebih dari itu kedua pahlawan mukmin sejati itu juga memiliki bangunan katakteryang sama, yaitu keprajuritan. Mereka berdua sama-sama berkarakter sebagai prajurit militer, Pahlawan-pahlawan musyrikin Quraisy yang berasal dari klan Bani Makhzum juga memiliki kemiripan dengan Umardan Khalid. Misalnya, Abu jahal. Bahkan putera Abu Jahalyang bemama Ikrimah bin Abi Jahal, sempatmemimpin pasukan musyrikin Quraisy dalam beberapa peperangan melawan kaum muslimin, sebelum akhimya memeluk Islam. Kenyataan yang sama seperti ini juga terjadi pada keluarga-keluarga ilmuwan atau ulama, pemimpin politik atau sosial, keluarga pengusaha, dan seterusnya. Keluarga adalah muara tempat calon-calon pahlawan menemukan ruang pertumbuhannya.
Walaupun tetap menyisakan perbedaan pada kecenderungannya, Abbas Mahmud AI-Aqqad, yang menulis biografi kedua pahlawan jenius itu, mengatakan bahwa keprajuritan pada Umar bersifat pembelaan, tapi pada Khalid bersifat agresif. Agaknya ini pula yang menjelaskan, mengapa Khalid lebih tepat memimpin pasukan ekspansi, dan Umar lebih cocok memimpin negara. Pada kedua fungsi itu kecenderungan pada garis karakter keduanya terserap secara penuh, maka mereka masing-masing mencapai puncak.

Sumber: milis keadilan4all, kiriman Raksa (Kanebo) [raksa@kitxxxxxx]
Oleh: M. Anis Matta, Lc.
Hudzaifah Trisakti oØ¢­nline - Jakarta, Posted by: Admin
on Thursday, September 11, 2003 - 08:50

Mari Menonton Sambil Berpikir Lewat Film Intelek

Mari Menonton Sambil Berpikir Lewat Film Intelek

Kalau kita berkaca pada karakter penonton Indonesia, maka sesungguhnya telah tergambar jelas film seperti apa yang kebanyakan mereka sukai. Dalam beberapa tahun terakhir periode kebangkitan perfilman Indonesia, film yang banyak menghiasi layar lebar tanah air tidak jauh dari film bertema cinta atau komedi seputar kehidupan remaja, serta genre horor yang seolah tak pernah habis diproduksi sepanjang tahun. Intinya, kecenderungan yang ada adalah para produser berlomba-lomba membuat film yang sesuai dengan selera pasar (mainstream).
Hal ini adalah sesuatu yang lumrah karena bila dikaitkan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang baru pulih, bisnis perfilman membutuhkan stimulus lewat dukungan para penontonnya agar dapat pulih kembali dari mati surinya. Walhasil, kebanyakan film-film Indonesia pun lebih banyak dijejali dengan tema-tema cerita yang ringan, mengedepankan unsur hiburan, monoton dan yang patut disayangkan, turut kehilangan kecerdasannya.
Sesungguhnya tidak ada yang salah jika penonton Indonesia kebanyakan lebih menyukai film yang lebih entertaining dibandingkan film-film bertema serius. Jangan salahkan pula bila mereka lebih prefer ke film-film popcorn khas Hollywood dibanding art film keluaran Eropa misalnya, toh penonton pastinya tidak mau ambil pusing dengan alur cerita njelimet yang ujung-ujungnya hanya membuat kita pusing dan menggerutu. Selama film ringan yang dimaksud tersebut mampu menyeimbangkan unsur komersial dan kualitas sehingga melahirkan tontonan yang bermutu, tentunya hal ini tidak menjadi masalah. Akan tetapi kenyataan di lapangan justru berkata lain.
Sebagian besar film yang membanjiri bioskop-bioskop negeri baik produksi anak bangsa maupun dari luar semacam Hollywood adalah film-film komersial berkualitas cetek dengan tema cerita yang itu-itu saja. Yang lebih parah lagi, film-film intelek “kelas berat” yang notabene sudah diakui di berbagai ajang penghargaan malah dipandang sebelah mata dan terlihat dinomorduakan. Kalau penonton ngotot untuk lebih memilih film yang mampu menyajikan unsur art dan entertainment secara balance, hal ini tentu bukan perkara mudah. Menggabungkan unsur idealisme dengan nilai bisnis bagaikan mencampur air dengan minyak, seringkali terjadi benturan dan pertentangan. Berapa banyak sich film sekelas Lord of the Rings trilogi atau Gladiator yang dirilis setiap tahunnya? Lantas mau dikemanakan film-film intelek yang saya maksudkan tadi?
Lewat tulisan ini, saya akan mencoba membuka wacana berpikir bagi penonton awam bagaimana nikmatnya menonton sambil berpikir serta menangkap esensi yang terkandung dalam film-film intelektual. Dengan melihat lebih dalam akan nilai-nilai filosofis yang tersirat dalam sebuah film serta membuka mata akan eksistensi film-film yang bersifat non-linear, diharapkan agar penonton dapat memperoleh cara pandang baru dalam melihat dan menilai film. Film dalam konteks bukan sekedar media hiburan, tetapi kembali ke akarnya sebagai wadah seni untuk berekspresi serta memperoleh apresiasi sejati dari penontonnya.
Mengenal Film Intelek Lebih Dekat
Bila anda sering mengikuti berita seputar film beberapa bulan belakangan ini, maka film berjudul Crash tentunya tidak begitu asing di telinga anda. Sedikit menyegarkan ingatan, Crash baru saja dinobatkan sebagai film terbaik Oscar pada awal Maret lalu lewat sebuah kemenangan tak terduga. Bagi yang sudah menontonnya, pasti akan setuju jika Crash dikategorikan sebagai film intelek, film serius, film non linear, non mainstream atau apalah namanya. Satu hal yang pasti, meski film ini dipuji banyak kritikus, namun ternyata ia tidak begitu populer di mata penonton awam, apalagi di Indonesia. Crash adalah salah satu contoh dari sekian banyak film cerdas yang pada akhirnya terlupakan hanya karena banyak penonton kita yang tidak cukup cerdas untuk dapat menikmati tontonan berkelas ini.
Bila kita menonton film intelek dan sejenisnya, maka tiga komentar yang paling merepresentasikan reaksi penonton setelah menyaksikannya adalah (1) membosankan; (2) memusingkan dan (3) melelahkan. Pemikiran-pemikiran seperti ini terbilang logis karena untuk dapat menikmati—atau bahkan memaknai—suatu film yang kompleks secara sempurna memang bukan perkara mudah. Bila kita sebagai penonton tidak cukup jumawa dalam menafsirkan apa yang ditontonnya, kendala-kendala di atas pastinya akan sulit diatasi.
Saya sepenuhnya setuju dengan komentar Ekky Imanjaya sebagaimana termuat dalam artikelnya yang berjudul Benarkah Film Indonesia Langka Akan Kritik Sosial?—bahwa sesungguhnya upaya penafsiran makna sebuah film berada sepenuhnya di tangan penonton. Dan oleh karenanya, sebuah film baru pantas disebut intelektual jika penontonnya pun cukup cerdas untuk memaknainya. Singkatnya, film intelek butuh penonton yang juga intelek untuk bisa eksis.
Film intelek adalah film yang membutuhkan kematangan dan kedewasaan berpikir dari penontonnya. Bila kita melihat perkembangan dan sejarahnya, film seperti ini lebih banyak tumbuh dan berkembang di negara-negara Eropa. Perfilman Eropa sendiri terkenal dengan iklim budayanya yang begitu mengakar, lebih bebas dan ekspresif.
Dengan iklim perfilman yang lebih bebas ini kemudian memicu lahirnya berbagai aliran/budaya film yang lebih ekspresionis dalam bertutur dan cenderung melawan arus (non-mainstream) dari pakem yang telah ditetapkan dalam membuat film konvensional. Hal ini pernah dilakukan oleh Orson Welles di Hollywood tahun 1940 ketika membuat Citizen Kane serta karya-karya spekulatif Stanley Kubrick. Mereka-mereka yang menjadi kreatornya adalah para pekerja seni yang masih murni mengedepankan mutu di atas segala-galanya. Di Eropa sendiri, kemudian lahir sineas-sineas jenius yang banyak menelurkan film-film masterpiece dan monumental. Para pekerja seni inilah yang membubuhkan identitas yang melekat kuat dalam film-film Eropa yang terkenal jamak melahirkan film-film intelek “kelas kakap”.
Bila kita sepakat mengenai hal di atas, maka nama-nama besar dedengkot film semacam Ingmar Bergman (Seventh Seal, Fanny and Alexander) ataupun Kryszytof Kieslowski (Dekalogue, Three Colors trilogy) rasanya tidak perlu diragukan lagi kualitas karyanya yang kental dengan simbolisme dan sangat filosofis. Di generasi kini ada nama Lars von Trier (Dogville), Alejandro Gonzales Inarritu (Amores Perrros) atau Pedro Almodovar (Talk to Her). Di Hollywood sendiri meki cenderung ngepop, namun masih ada sejumlah sineas underground yang tetap idealis seperti Quentin Tarantino (Pulp Fiction) yang nyentrik, Chritopher Nolan (Memento) dan yang lebih ekstrim seperti David Lynch (Mulholland Drive). Di Asia sendiri, nama Wong Kar-Wai (In the Mood for Love), si rabid dog Takashi Miike (Audition) serta Chan-Wook Park (Oldboy) adalah yang patut dikedepankan.
Kesemua sutradara tadi membuat film dengan lebih mengutamakan kepuasan batin mereka dibanding kepuasan pasar. Jadi jangan heran jika banyak karya mereka yang sulit dipahami dan butuh pemikiran ekstra untuk membongkar pesan-pesan tersembunyi dalam karya-karya mereka.
Ciri Khas Film Intelek
Bila anda jenis penonton yang telah terbiasa menonton film-film intelek atau bahkan sangat menikmatinya, maka pastinya anda sudah bisa menyadari bahwa ada semacam karakteristik yang melekat dibalik film berjenis ini. Bahkan bagi yang sudah banyak “makan garam”, hanya dengan melihat trailer-nya atau cover/judulnya saja sudah bisa ketahuan akan kemana arah film tersebut membawa penontonnya. Memang ada semacam pola yang identik dan seolah menjadi aturan tak tertulis dalam proses lahirnya jenis film yang satu ini. Ciri-ciri di bawah ini boleh dikata cukup mewakili seperti apa film intelek itu secara umum.
1. Gaya penggarapan/penyutradaraan yang sering tidak lazim dan kompleks, atau sering pula disebut dengan istilah non linear. Contoh: Memento (2000), Mulholland Dr. (2001).
2. Alur cerita yang umumnya tidak lurus, seringkali plot kisahnya menggunakan alur/dramalurgi flashback atau meloncat-loncat/maju-mundur. Dalam beberapa kasus malah ada film yang sangat susah dicerna proses loncatan waktu dalam ceritanya. Contoh: In My Father’s Den (2004) dan semua film arahan Quentin Tarantino.
3. Mengangkat tema cerita yang mengutamakan orisinalitas dan jarang diangkat ke muka umum. Seringkali cerita bahkan dibawa ke tingkat yang lebih ekstrim, nekat hingga mengundang kontroversi. Contoh: Irreversible (2003), Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004).
4. Karena kebanyakan dianggap kurang memiliki nilai jual, maka film sejenis ini diproduksi dan dirilis dengan dana/bujet berskala kecil (independen) dan lebih banyak “bergerilya” di ajang festival film dengan pemutaran terbatas ketimbang berkeliaran di bioskop-bioskop besar. Contoh: Donnie Darko (2001), Sideways (2004).
5. Ending adalah kunci dari film berjenis ini dan sekaligus yang sering dikeluhkan oleh penonton awam. Endingnya terkadang begitu mengejutkan, terkadang pula menggantung serta giat membubuhkan “tanda koma” di akhir film. Ending seperti ini tidak langsung memberikan kesimpulan/solusi, melainkan membiarkan penonton mencari jalan keluarnya sendiri. Dalam beberapa kasus yang menjengkelkan, film malah tidak memberi jalan sama sekali untuk menemukan jawaban. Contoh: Rashomon (1950), 2001: A Space Odyssey (1968).
6. Banyak memasukkan unsur simbolisasi, abstrak dan hal yang bersifat humaniora ke dalam gambar dan cerita. Film seperti ini biasanya memaksa kita untuk menonton film tersebut lebih dari sekali. Contoh: Red (1994), 3-Iron (2004).
7. Aktif melancarkan pesan-pesan bertema sosial serta kritik tajam seputar tatanan sosial. Contoh: Ghost World (2000), Elephant (2003).
Bagaimana Menikmati Film Intelek
Menikmati film intelek sesungguhnya memiliki keasyikan tersendiri, terutama bagi anda yang telah terbiasa menikmatinya. Bagi penonton yang lebih sering menikmati film-film yang lebih “normal”, mungkin inilah saatnya bagi anda untuk menjajal sesuatu yang baru dalam menonton film. Sedikit berpikir saat menonton tentu bukan sesuatu yang buruk khan? Beberapa tips di bawah ini saya pikir patut disimak bagi anda para penonton pemula.
1. Bila ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa setiap perbuatan itu dinilai dari niatnya, maka demikian halnya dalam menonton film intelek. Pertama anda harus punya niat dan kemauan yang kuat untuk menikmatinya. Siapkan otak anda untuk berpikir karena ini bukan film yang bisa ditonton sambil makan popcorn.
2. Sebelum anda menonton, ada baiknya jika anda terlebih dahulu membaca ulasan/preview film yang akan ditonton. Bukan apa-apa, terkadang menonton film seperti ini tidaklah mudah. Setidaknya anda sudah tahu bagaimana dan akan kemana film ini mengarahkan penontonnya. Tapi awas, jangan sampai merusak kenikmatan anda dengan membaca spoiler, karena spoiler inilah yang menjadi musuh besar seorang penikmat film.
3. Jika film intelek yang anda tonton tergolong kategori “benar-benar berat”, ada baiknya bila anda menonton sambil didampingi oleh orang yang lebih berpengalaman, setidaknya oleh orang yang sudah pernah menonton film tersebut sebelumnya. Jadi kalau anda menemui jalan buntu dalam memahami cerita, partner anda ini bisa mengarahkan anda agar tidak terjebak ke “dark side”. Tapi (lagi-lagi) awas, jangan sampai si partner keceplosan hingga membocorkan kejutan yang akan muncul. Maklum, inilah kebiasaan penonton yang terkadang sok tau.
4. Setelah menonton filmnya, hal yang paling bijak dilakukan oleh seorang penonton film adalah membuka diskusi atau bedah film bersama orang yang sudah menontonnya. Terkadang ada sejumlah film yang mengandung makna yang multi tafsir. Oleh karenanya lewat diskusi film, kita bisa sharing pendapat sehingga bukan tidak mungkin diperoleh tafsiran baru akan makna yang sebelumya tidak kita ketahui.
5. Membaca review dari para kritikus film. Kritikus film adalah penonton yang paling bijak karena mereka melihat film secara mendalam dan menyeluruh. Jadi tidak perlu ragu untuk membandingkan hasil penafsiran anda dengan ulasan mereka yang banyak dimuat di berbagai media cetak dan internet.
6. Kalau anda masih belum mengerti juga makna dari film yang anda tonton, jangan pernah ragu untuk menontonnya sekali lagi, dua kali bahkan berkali-kali sampai anda mengerti. Semakin anda membiasakan diri menonton film semacam ini, maka semakin mudah anda memahaminya. Sesungguhnya kemampuan kita untuk memahami suatu hal terbentuk dari pengalaman dan kebiasaan. Sekali lagi, jangan ragu untuk tonton dan tonton lagi!
Kesimpulannya, perlu ada perubahan dalam hal budaya menonton film di negara kita. Penonton kita sudah terlalu banyak dijejali dengan tontonan sinetron yang tidak logis dengan tema cerita yang sudah basi. Tontonan seperti ini sesungguhnya bukan pilihan yang tepat untuk mendidik dan mencerdaskan masyarakat kita. Yang paling saya khawatirkan, jangan sampai cara bertutur “dagang mimpi” ala sinetron ini turut merambah dunia perfilman kita yang baru bangkit. Bisa-bisa dunia baru yang telah dibangun para sineas muda kita jatuh ambruk lagi seperti awal tahun 1990-an gara-gara kemonotonan produksi film di masa itu.
Namun saya bersyukur karena masih ada sejumlah sineas kita—walaupun sedikit jumlahnya—yang tetap mempertahankan idealismenya seperti Nia Dinata (Berbagi Suami), Riri Riza (GIE) dan sutradara panutan saya, Garin Nugroho (Daun di Atas Bantal). Lewat tangan emas mereka, film intelek akan tetap hadir mewarnai belantika perfilman Indonesia. Film yang mengajak kita untuk lebih peka dan berpikir kritis di tengah langkanya tontonan bermutu di tanah air.

· Artikel ini dibuat sebagai bentuk keprihatinan penulis terhadap budaya menonton film di negaranya.
Oleh: Imam Budiman

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka?

Indonesia Merdeka pada tahun 1945 dengan umur sudah 64 tahun Indonesia Merdeka sejak Proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno Hatta. Arti kemerdekaan sangat luas dan membuat kehidupan yang ideal, demokrasi, dan adanya kesejahteraan rakyat.
Tapi generasi demi generasi perubahan di Indonesia bisa dibilang sangat riskan dan menonjol sekali, umpanya di sektor Hukum, Pendidikan, Infrastruktur, dan lain sebagainya. Dengan tinggi perokonomian Indonesia membuat seperti dulu ke irama kehidupan penjajahan yang harus membayar pajak dengan tinggi. Harga pangan naik, kebutuhan fital melambung tinggi, tapi nilai rupaih jatuh, banyaknya pengangguran dimana-mana, keterpurukan mental bangsa bisa dibilang hampir semua sektor lini kehidupan terjadi perubahan yang signifikan tapi mengarah ke arah negatif.
Dengan adanya kronoligis diatas inikah namanya yang Merdeka, belum bisa keluar dari belenggu penjajahan yang sifatnya tidak langsung tapi dengan perbuatan halus dilapangan. Padahal moment dari Merdeka adalah adanya satu sistem hubungan timbal balik dengan pemerintah, tapi apa hendak dikata semua itu sudah menjadi bubur dan kenangan saja, makanya banyak tidak ambisi lagi melihat keadaan Indonesia saat ini. Melihat perjuangan para pejuang kita dahulu rela mati demi bangsa, mereka tinggalkan harta benda, sanak saudara harus berperang, bergerilya, penuh kesedihan, penuh dengan lautan api dan darah, demi berkibarnya Bendera Merah Putih di Tanah Pertiwi kita.
Moment kemerdekaan itu sudah hilang terkikis dengan perubahan jaman yang semakin canggih, lupa semua detik-detik proklamasi yang seharusnya menjunjung tinggi nilai sejarah yang ada. Tahun entah apa yang menjadi tema dari Bapak Presiden kita untuk rakyat Indonesia, SBY sendiri bingung melihat banyak tangisan dimana-mana, adanya bencana alam, Tsunami, dan masih banyak lagi hal lain yang memilukan seluruh bangsa. Semogalah di tahun ini sejak sudah merdeka membawa nuansa baru di tanah air kita, lebih mengenal lagi, adanya memiliki, cinta akan kedamian, menjalin persatuan dan kesatuan, lebih profesional para petinggi kita.
Saya rasa dengan menjalankan sebagaian apa yang sudah terjadi saat ini menuju adanya perubahan yang radikal inilah yang disebut negara merdeka. 17 Agustus 2006 yang akan datang mengulang dan mengenang kembali perjuangan putra-putri bangsa, kita hening sejenak untuk mereka, kita lawat mereka dengan doa, kita kenang mereka dengan bukti sejarah yang ada, tapi tidak heran sekarang ini bukti sejarah (bagunan) sudah di jadikan ladang bisnis, kejam sekali semua itu.
Merdeka salah satu kata yang luar biasa artinya adanya kebebasan yang berbangsa dan bernegara, dalam konteks ini bebas dalam artian tetap dilindungi oleh hukum yang ada, tidak terjadi lagi adanya pengobok-obokan politik, orang jujur jarang kita jumpai, kurangnya mendengar kontribusi dari rakyat. Semua menjadi satu rantai kehidupan disebuah negara yang majemuk, soalnya masyarakat Indonesia terkungkung dengan tidak adanya koordinasi yang kurang profesional diberbagai kalangan dan sektor pemerintah ataupun swasta.
Kurangnya animo masyarakat akan kemerdekaan berakibatkan membawa irama yang kurang baik, tugas dari orang yang merdeka sebagai pilar bangsa harus menjadi teladan, arif dan bijaksana, soalnya mengenang 17 Agustus ini bukanlah acara seremonial biasa tapi salah satu hari yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia.
Dengan hari kemerdekaan ini bangsa Indonesia tidak melihat lagi titik-titik kehancuran dengan kembalinya ke irama penjajahan yang nyata-nyatanya dilihat para mata rakyat yang jeli akan berbangsa dan bernegara.
Mari bergandengan tangan untuk menjungjung tinggi nilai bangsa kita, jangan dijadikan ajang keberhasilan pribadi, seandainya Indonesia ini manusia dan orang tua kita pasti dia menangis dan berkata mau dibawa kemana bangsa ini..?
Sedikit banyaknya saya utarakan kepada pembaca yang baik, agar saling memerdekakan bangsa ini dengan cara apapun, peganglah merah putih jadikan selimut disaat anda kedinginan. Maju terus Indonesia sejajarkan dirimu dengan negara lain yang benar-benar merdeka, pantang surut, kembangkan merah putihmu kebelahan dunia.

http://www.pintunet.com/member.php?name=Arpin

Mahasiswa dan Rekayasa Sosial

Tuesday, August 25, 2009

Mahasiswa dan Rekayasa Sosial
Oleh :Wurianto Saksomo

“Kita harus membaca situasi sekarang ini dengan semangat bagaimana memanfaatkannya sebagai momentum untuk kemajuan-kemajuan baru, lompatan-lompatan baru, bagi kepentingan strategis dan sejarah dakwah “
(Ust. Anis Matta Lc, dalam Menikmati Demokrasi)
Problem Sosial
Sebelum kita melangkah untuk membahas rekayasa sosial maka biasanya orang harus mengetahui dulu apa itu problem sosial, karena adanya rekayasa sosial itu didahului timbulnya problem-problem (masalah) sosial. Problem adalah sebuah kondisi di mana terjadi perbedaan antara apa yang kita inginkan (das Sollen) dan apa yang telah terwujud menjadi suatu kenyataan (das Sein). Kita menginginkan cepat lulus kuliah namun kenyataannya skripsi tidak kelar-kelar, atau kita ingin segera mengakhiri masa lajang, namun apa daya ternyata proposal ditolak terus. Akibatnya terjadi perbenturan antara idealita dan realita.
Problem itu sendiri sebenarnya dibagi menjadi 2 dimensi yakni bertaraf individu dan bertaraf sosial. Problem individu adalah masalah yang timbul dari individual qualities (kualitas-kualitas individu) atau dari lingkungan terdekat. Misalnya seseorang pemuda yang ditolak lamarannya oleh orang tua sang gadis yang telah diincarnya karena dianggap masih menganggur. Si pemuda masih menganggur disebabkan memang malas mencari duit, jadi ini adalah masalah personal dari yang bersangkutan. Atau seseorang yang ditolak untuk menjadi penyanyi oleh produser rekaman karena suaranya memang hanya merdu kala di kamar mandi saja.
Sebaliknya masalah sosial bermula dari faktor dan lingkungan sosial. Philip Kotler menyebutkan bahwa problem sosial adalah kondisi tertentu dalam masyarakat yang dianggap tidak enak atau menganggu oleh sebagian anggota masyarakat dan dapat dikurangi atau dihilangkan melalui upaya bersama (kolektif). Ada 3 problem sosial yang bisa kita kemukakan di sini yang mana ketiga problem sosial tersebut menjadi sumber perubahan sosial, yakni kemisikinan, kejahatan, dan konflik.
Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah terjadinya perubahan bentuk dan fungsionalisasi kelompok, lembaga, atau tatanan sosial yang penting. Ada istilah lain yang diberikan oleh para ilmuwan tentang perubahan sosial, yang substansinya sama atau hampir sama. Less dan Presley menyebutnya social engineering, MN Ross mengatakannya social planning (perencanaan sosial), dan Ira Kaufman mengistilahkannya dengan change management (manajemen perubahan). Sedangkan Jalaluddin Rakhmat menggunakan istilah rekayasa sosial dan ini yang kita bahas.
Menurut sosiolog terkenal, Max Weber, penyebab utama perubahan adalah ideas atau pandangan. Tesis utama dari Weberianisme adalah pengakuan terhadap peranan besar idelogi sebagai variabel independen bagi perkembangan masyarakat. Penyebab kedua adalah tokoh-tokoh besar. Menurut Thomas Carlyle sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar. Perubahan sosial terjadi karena munculnya tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati para pengikutnya yang setia, dan kemudian mereka bersama-sama melakukan perubahan di dalam masyarakatnya. Perubahan sosial yang ketiga terjadi karena adanya gerakan sosial (social movement) seperti yang dilakukan LSM.
Aksi Sosial
Setelah mengetahui problem sosial yang terjadi dan upaya untuk melakukan rekayasa sosial, maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah aksi sosial. Aksi sosial diartikan sebagai tindakan kolektif untuk mengurangi atau menghilangkan masalah sosial. Aksi sosial mengandung lima unsur (5C), yakni cause, change agency, change target, channel, dan change strategy. Cause atau sebab, ini berkaitan dengan misi, motif, atau tujuan. Setiap problem sosial membutuhkan sejumlah pemecahan atau solusi yang beragam. Ada 3 sebab atau alasan untuk turun dalam dataran aksi yakni membantu (helping), memprotes (reform), dan menghancurkan (destroy/revolusi). Saat ini revolusi menjadi wacana yang sedang naik daun di kalangan gerakan mahasiswa. Revolusi adalah motor penggerak sejarah, demikian pendapat Karl Marx. Secara definitif ia diartikan sebagai perubahan yang cepat dan mendasar dari masyarakat dan struktur kelas suatu negara, dan revolusi tersebut dibarengi serta sebagian menyebabkan terjadinya pemberontakan kelas dari bawah.
Rekayasa sosial di mana pun tempatnya dan kapan pun masanya selalu membutuhkan aktor-aktor untuk melakukan gerakan. Ada 2 kelompok besar di balik upaya rekayasa sosial yakni pemimpin-pemimpin (leaders) dan pendukung (supporters). Kalau dijabarkan lebih lanjut akan kita temukan derivasinya yang mana tiap-tiap orang mempunyai peran yang tertentu. Ada orang yang menggerakkan, ada yang terus-menerus memberikan motivasi agar massa tetap bergerak, ada yang membantu dengan sumber daya, dana dan fasilitas, ada yang memperngaruhi kalangan elit, ada yang mengatur administrasi sebuah gerakan, ada yang harus menjadi konsultan, ada juga tipe pekerja atau aktivis, ada pendonor, dan yang tak kalah pentingnya adalah para simpatisan.
Sasaran perubahan menurut Jalaludin Rakmat dalam bukunya Rekayasa Sosial ada 2 yaitu pertama sasaran akhir, berupa korban atau lembaga-lembaga yang dirusak. Kedua adalah sasaran antara seperti masyarakat/pemerintah, bisnis, atau profesi.
Unsur selanjutnya dari aksi sosial adalah chanel atau saluran yaitu media untuk menyampaikan pengaruh dan respon dari setiap pelaku perubahan ke sasaran perubahan. Dalam klasifikasi Kotler, media ini dibagi menjadi dua, media pengaruh dan media respon. Keduanya dapat menggunakan media massa atau media interpersonal.
Terakhir adalah change strategy (strategi perubahan), yaitu teknik utama mempengaruhi, yang diterapkan oleh para pelaku perubahan untuk menimbulkan dampak pada sasarn perubahan. Ada tiga alternatif strategi : memaksa (power strategy), membujuk (persuasi), dan mendidik (edukasi).
Gerakan Mahasiswa
Tampaknya berbicara mengenai rekayasa atau perubahan sosial menjadi tidak adil jika tidak membicarakan (ngrasani) mahasiswa. Pengalaman sejarah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa menjadi kekuatan dahsyat untuk merubah kondisi di negeri ini sejak dulu. Jaman pergerakan kemerdekaan (masa 1908, 1928, dan 1945), penjungkalan Orde Lama, Peristiwa Malari, aksi-aksi protes terhadap kebijakan NKK/BKK, tumbangnya Eyang Soeharto, dan sebagainya cukup menjadi bukti. Mahasiswa sejak dulu, kini, dan sampai kapan pun selalu berpeluang untuk berada pada posisi terdepan dalam proses perubahan masyarakat sehingga pantaslah jika ia mendapatkan sandang sebagai kelompok pembaharu. Orang sering mengatakannya dengan gerakan moral yang tidak berambisi menduduki jabatan kenegaraan tertentu atau tanpa pamrih.
Menurut Arbi Sanit ada 2 peran pokok yang selalu tampil mewarnai setiap aktivitas gerakan mahasiswa. Pertama, sebagai kekuatan korektif terhadap penyimpangan yang terjadi. Kedua, sebagai penerus kesadaran masyarakat luas akan problema yang terjadi sehingga ia senantiasa melahirkan berbagai alternatif pemecahan.
Namun demikian perjalanan gerakan mahasiswa tidak berjalan mulus begitu saja, karena pihak penguasa selalu khawatir akan protes-protes perlawanan mahasiswa terhadap kebijakannya yang tidak pro rakyat. Karena itulah pihak penguasa melakukan intervensi ke dalam kampus. Penguasa menyadari bahwa kampus sebagai pembaharu masyarakat, sebagai sumber daya politik, dan mempunyai watak kemandirian yang menumbuhkan sikap kritis. Akibat intervensi dari negara tersebut (terutama dengan dikeluarkannya NKK/BKK, yang walau sudah dicabut namun dampaknya masih terasa) menimbulkan 3 hal. Pertama, terasa kuatnya tekanan terhadap pertumbuhan daya kreativitas warga kampus. Kedua, intervensi birokrasi departemen yang mendalam telah menjadikan para pimpinan unit universitas menjadi semacam “Raja Kecil”. Ketiga, tumbuhnya gejala apatisme sebagai kelanjutan perpaduan kedua hal di atas.
Menghadap kenyataan seperi itu ada 2 pilihan yang harus dilakukan oleh para mahasiswa sebagai bagian dari warga kampus. Mahasiswa akan mengundurkan diri ke “dunia dalam” yang bersifat pribadi dan cenderung pragmatis tanpa mau memperhatikan keadaan yang terjadi di sekitarnya ataukah mahasiswa justru keluar dari “dunia dalam” dan memberontak melawan ketidakadilan.
Gerakan KAMMI
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia dilahirkan dan dibidani oleh para aktivis dakwah kampus yang dikenal sebagai kader tarbiyah. Gerakan tarbiyah sendiri ditengarai menyemaikan bibitnya pada awal-awal tahun 80-an dan semakin marak pada dekade 1990-an hingga sekarang. Sumber referensi yang dijadikan bahan kajian adalah gerakan Ikhwanul Muslimin.
Di kota Malang pada bulan Maret 1998 KAMMI dideklarasikan dan sejak itulah sejarah gerakan mahasiswa memberikan tempat terhormat kepada KAMMI terutama sejarah gerakan ’98 (meminjam ungkapan Anas Urbaningrum, mantan Ketua PB HMI). Ada sebuah fenomena unik pada gerakan mahasiswa yang baru berusia “balita” ini yakni pertemuan 2 variabel di dalam gerakannya yang menjadi potensi kekuatan, yaitu masjid dan kampus. Masjid menyimbolkan adanya kekuatan moralitas sedangkan kampus sarat dengan nilai-nilai intelektualitas. KAMMI memang bermula dan tumbuh dari masjid, muncul dari masjid kampus, dan bergerak di masjid kampus.
Peran Kita
KAMMI sebagai gerakan mahasiswa yang berusia sangat muda tentu saja masih memerlukan pembenahan serta polesan-polesan indah dari para kadernya agar semakin cantik dan menawan bagi setiap orang. Kalau kita mengibaratkan seorang anak kecil yang berusia empat tahun lebih, ia adalah bocah lugu dan lucu yang membuat gemas, yang membikin orang-orang dewasa ingin mencubit pipinya yang tembem. Ia masih memerlukan penataan. Tugas kita bersama untuk melakukannya.
Setiap kader ketika menghadapi realita temperatur kondisi negara yang semakin panas ini diharapkan mempunyai bekal pengetahuan. Setiap kita hendaknya menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif yang memberikan wawasan makro serta memberikan efek integralitas dan pengetahuan yang spesialis yang mengacu pada kedalaman serta memberi efek ketepatan. Hal ini memang membutuhkan kesungguhan, keseriusan, dan kesabaran yang melelahkan. Ustadz Anis Matta memberikan ciri-ciri tradisi ilmiah untuk memperkuat gerakan, di antaranya selalu membandingkan pendapat, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana ide-ide, tidak pernah merasa berilmu secara permanen, menyenangi hal yang baru dan menyukai tantangan, selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara pruduktif, dan lain-lain.
Gerakan kita sungguh membutuhkan tradisi konstruktif seperti itu, apalagi dengan konsep kaderisasi siyasi yang masih memerlukan alternatif interprestasi untuk kemudian diterapkan dalam aplikasi. Meminjam ungkapan Ust. Anis, barangkali di hadapan kita saat ini ada sebuah celah sejarah yang diciptakan oleh masa transisi. Kita mempunyai peluang dan sekaligus juga tantangan untuk mengisi celah sejarah itu dengan gagasan dan amalan kita. Dan di dalam setiap penciptaan sejarah tersebut akan lahir tokoh-tokoh besar dan berhati besar.
Untuk mewujudkan segala apa yang kita cita-citakan itu tidak mungkin berjalan dengan sekejap saja atau seketika. Semua diawali dari hal-hal yang kecil (menurut Aa’ Gym lho). Maka itu paling tidak ada 3 hal yang harus kita lakukan, yaitu banyak membaca baik membaca tekstual maupun fenomena, berinstitusi (membentuk komunitas) karena sebuah kerja besar sangat berat untuk dikerjakan sendirian, dan pembiasaan (kulturisasi) sehingga orang lain akan mengikuti apa yang kita lakukan.
KAMMI mungkin saat ini sedang hamil tua untuk melahirkan manusia-manusia besar yang menentukan dan mewarnai pernak-perniknya. Dan saya berharap itu adalah KITA.
Catatan Akhir
Untuk melakukan proses rekayasa sosial yang lebih besar di dunia masyarakat maka dibutuhkan energi dan perencanaan yang sangat matang, karenanya penataan internal di dalam sebuah gerakan itu sendiri dan juga upaya kaderisasi harus selalu menjadi prioritas pemikiran. Mulailah dari diri sendiri, mulailah sekarang ini, dan mulailah dari hal-hal yang kecil dengan senantiasa tidak melupakan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
“Dakwah kita saat ini sangat membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategis. Generasi ‘ideolog’ telah melakukan tugas mereka dengan baik. Mereka telah membangun basis pemikiran yang kokoh bagi kebangkitan Islam di seluruh dunia. Kini tiba saatnya peran mereka dilanjutkan oleh generasi baru, generasi pemikir strategi yang bertugas menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai cita-cita dakwah.” (Ust Anis Matta, Lc dalam Menikmati Demokrasi)

Wallahu a’lam bish shawab

Maroji’ :
Matta, Anis, Menikmati Demokrasi, Jakarta, Pustaka Saksi, 2002
Rahmat, Andi., dan Mukhammad Najib, Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus, Surakarta, Purimedia, 2001
Rakhmat, Jalaluddin, Rekayasa Sosial, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2000
Sanit, Arbi, Pergolakan Melawan Kekuasaan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1999
Scocpol, Theda, Negara Dan Revolusi Sosial, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1991

(hanif_hamzah)